Repeat Until Nothing Remains

Category: Fafifuu

Ida Wells

  • Relasi Tanpa Rantai

    Relasi Tanpa Rantai

    Pernyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial sering diterima sebagai sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan. Ia diposisikan seolah-olah merupakan fakta yang bersifat tetap, bukan sebuah gagasan yang dapat ditinjau ulang. Dari asumsi tersebut, berbagai tuntutan kemudian berkembang dan dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari.

    Bergaul dipandang sebagai keharusan. Partisipasi dalam kehidupan sosial dianggap sebagai bentuk tanggung jawab. Menjadi bagian dari masyarakat diposisikan sebagai sesuatu yang seharusnya dijalani. Dalam konteks ini, relasi tidak lagi dipahami sebagai pilihan, melainkan sebagai kewajiban yang melekat.

    Jika ditelaah lebih jauh, cara kerja gagasan tersebut tidak bersifat memaksa secara langsung. Ia beroperasi melalui pengulangan dan pembiasaan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diterima secara gradual hingga akhirnya tidak lagi dipertanyakan. Pada titik ini, banyak individu menjalani hubungan sosial bukan karena kehendaknya sendiri, tetapi karena dorongan normatif yang telah terinternalisasi.

    Akibatnya, relasi sering dipertahankan bukan karena memiliki makna, melainkan karena dianggap perlu untuk dipertahankan. Kebersamaan tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada pilihan, tetapi pada anggapan mengenai apa yang seharusnya dilakukan.

    Namun, setiap hubungan pada dasarnya berakar pada individu. Tidak ada entitas kolektif yang berpikir atau bertindak di luar individu-individu yang membentuknya. Apa yang disebut sebagai masyarakat merupakan hasil dari interaksi yang kemudian diberi makna dan nama tertentu.

    Pemahaman ini menggeser posisi relasi sosial dari sesuatu yang dianggap absolut menjadi sesuatu yang bersifat konkret dan terbentuk melalui keputusan individu. Dengan demikian, hubungan tidak memiliki dasar yang kuat untuk diposisikan sebagai kewajiban yang bersifat permanen.

    Seseorang menjalin hubungan karena terdapat alasan yang ia anggap bermakna. Ia bekerja sama karena terdapat nilai yang ia temukan di dalamnya, baik dalam bentuk manfaat, kenyamanan, maupun kesesuaian tujuan. Selama alasan tersebut masih ada, relasi dapat berlangsung. Ketika alasan tersebut tidak lagi hadir, mempertahankan hubungan semata-mata karena kewajiban menjadi sulit untuk dibenarkan.

    Dalam hal ini, relasi yang didasarkan pada kehendak akan berbeda secara mendasar dari relasi yang dipertahankan oleh tuntutan. Yang pertama bersifat dinamis dan terbuka terhadap perubahan. Yang kedua cenderung statis dan berpotensi kehilangan relevansinya.

    Permasalahan menjadi lebih kompleks ketika relasi dikaitkan dengan konsep-konsep yang bersifat umum, seperti tanggung jawab sosial atau kepentingan bersama. Konsep-konsep tersebut sering digunakan untuk memberi legitimasi terhadap tuntutan tertentu, namun pada saat yang sama dapat mengaburkan posisi individu sebagai subjek utama dalam relasi.

    Dalam praktiknya, relasi tetap berlangsung dalam bentuk yang sederhana: individu memilih untuk hadir, memilih untuk terlibat, dan memiliki kemungkinan untuk tidak melanjutkan. Setiap keterlibatan pada dasarnya merupakan keputusan yang diambil pada tingkat individu.

    Relasi yang terbentuk tanpa paksaan tidak memerlukan legitimasi moral yang berlebihan. Ia bertahan sejauh masih memiliki makna bagi individu yang menjalaninya. Dalam kondisi ini, hubungan tidak dipertahankan atas dasar kewajiban, melainkan atas dasar keberlanjutan alasan yang membuatnya relevan.

    Ketika alasan tersebut tidak lagi ada, berakhirnya relasi tidak selalu menunjukkan kegagalan. Ia dapat dipahami sebagai perubahan dalam keputusan yang diambil oleh individu.

    Dengan demikian, relasi manusia tidak perlu dipahami sebagai ikatan yang harus dipertahankan tanpa batas. Ia lebih tepat dipandang sebagai pertemuan yang bersifat dinamis, yang berlangsung selama memiliki arti bagi pihak-pihak yang terlibat.

    Relasi bukanlah sesuatu yang berada di atas individu, melainkan sesuatu yang bergantung pada keputusan individu untuk tetap berada di dalamnya.

    — D.Zee